Wisata Arab: Masjid Terapung Menakjubkan di Kota Jeddah.

Masjid satu ini boleh jadi merupakan Masjid paling populer di kota Jeddah bagi para jemaah Haji atau pun jemaah Umroh, termasuk jemaah dari Indonesia.

Angel Falls” di Venezuela Jadi Daya Tarik Turis

Aliran air di Angel Falls ini langsung jatuh tanpa terhalang bebatuan atau pun merambat ke dinding bebatuan, airnya langsung meluncur sejauh 807 meter dan dari aliran air Sungai Gauja. Lokasi air terjun ini agak terpencil dikelilingi hutan hijau yang lebat dan padang rumput.

Wisata Syariah Pengaruhi Daya Jual Pariwisata NTB

Wacana ‘branding’ baru sebagai wisata syariah, menurut sejumlah pihak, dapat mempengaruhi daya jual pariwisata NTB di mata dunia.

Inilah Tempat Wisata dan Rohani Pilihan di Timor Leste

Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosa’e), yang sebelum merdeka bernama Timor Timur merupakan negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat.

Danau “Mutiara Siberia” Jadi Andalan Rusia, Ini Obyek Wisata Menarik Lainnya

Beberapa tempat wisata lain di Rusia selain danau mutiara...

Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thailand. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2015

Jim Thompson House

Sebelumnya tempat ini tidak begitu banyak yang tahu, sebuah rumah yang diberi nama sesuai dengan nama pendirinya “Jim Thompson House” dengan gaya arsitektur yang elegan dan dipekarangan rumahnya terdapat taman yang indah menghadap langsung ke kanal bernama Saen Saeb. Di dalam kompleks ini ada 6 bangungan tradisional Thailand bahan bangunannya menggunakan bahan jati asli Thailand. Arsitektur bangunan disini benar-benar memberikan unsur unik perpaduan gaya barat dan timur.

Seorang arsitek dengan pelatihan dan kolektor seni objets d’Asia, matanya yang tajam Thompson dan bakat untuk desain meniupkan kehidupan ke dalam segala sesuatu yang disentuhnya. Setelah pulang nya dari dinas militer pada 1946, Thompson memutuskan untuk menetap di Thailand, di mana ia mempersembahkan lebih dari 30 tahun untuk menghidupkan kembali industri lokal (rumahan) kain sutra Thailand dan lalu memperkenalkannya ke rumah-rumah mode yang paling terkenal di dunia fashion dan catwalk di Paris, New York, London, dan Milan.

Hal yang sama berlaku untuk rumah Thailand miliknya, sebuah kompleks vila yang terbuat dari kayu jati, penuh dengan koleksi barang antik yang unik, saat ini sudah berubah menjadi sebuah museum yang benar-benar menggambarkan cita rasa desain yang benar-benar unik dari diri sang pemilik, Jim Thompson . Suatu hari pada tahun 1967, sementara pada puncak kesuksesannya, ia secara misterius menghilang ke dalam hutan Malaysia, dan dengan demikian mulailah warisan dari Jim Thompson …

Perpaduan Gaya Barat dan Timur

Dibalik bayangan pohon-pohon yang mengitari kompleks ini, berdirilah bangunan yang desain artitekturnya mengambil gaya rumah tradisional Thailand tapi uniknya bagian dalam bangunan ini desain interiornya lebih kental dengan gaya barat dan juga dipadukan dengan gaya timur untuk beberapa detailnya. Lihat saja perpaduan lantai marmer asal Italia, lampu gantung dari Belgia, furnitur, jendela dan pintu kayu yang diukir secara unik dan ada 2 dinding yang memamerkan patung Budha dari abad ke-17.

Koleksi Barang Antik dan Seni yang Unik


Pada bagian atas di bangunan utama, Anda akan menemukan banyak dekorasi yang tergantung di dinding. Pajangan ini “diselamatkan” oleh Thompson dari berbagai Kuil Budha. Seperti salah satu seri koleksi lukisan-lukisan kuno yang menceritakan tentang perjalan hidup Sang Budha pada jaman dahulu, mengenai kehidupannya sehari-hari dan juga perjalanan hidup spiritualnya untuk mencari kesempurnaan. Dari sini, lanjutkan ke kanan dan Anda bisa menemukan sebuah patung Buddha yang terbuat dari batu pasir yang dicitrakan sedang menjaga pintu masuk ke dapur Thailand, yang sekarang rumah koleksi indah Thompson ware porselen Benjarong.

Ruang makan vila Thompson bergaya abad 19 ini terbuat dari kayu jati asli yang dibeli langsung dari Ayutthaya. Di meja makan, dibuat dari dua tabel mahjong Cina, satu set porselen biru-putih ditata dalam posisi aslinya seperti seolah-olah makan malam sudah siap untuk dihidangkan, dengan Thompson duduk di bagian kepala meja, dengan posisi memunggungi ke jendela.

Cafe Jim Thompson



Setelah Thompson menghilang secara misterius, pihak pengelola yang ditunjuk, yang lalu 10 tahun kemudian The James H.W. Thompson Foundation, mengambil alih menejemen kompleks vila dan aset-asetnya, merk Jim Thompson lalu diperlebar menjadi art centre, souvenir boutique, restaurant dan café, serta fasilitas perjamuan yang terletak di area ini. Dengan teras terbuka menghadap ke kanal, area Araya yang elegan bisa digunakan untuk melayani pertemuan antara 40 hingga 80 orang, bisa digunakan untuk pertemuan perusahaan, peragaan busana, pesta pernikahan, konferensi pers, makan siang atau makan malam pribadi.








Jam Buka: 09:00-17:00 (last guided tour at 17:00)
Lokasi: Soi Kasemsan 2, opposite the National Stadium on Rama I Road.
BTS: National Stadium
Alamat: 6/1 Soi Kasemsan 2, Rama 1 Road
Tel: +66 (0)2 216 7368
Cara ke tempat ini: Ambil exit 1 dari the BTS National Stadium Station, belok ke kiri ke arah Soi Kasemsan 2 dan lanjutkan berjalan kaki hingga ke ujung jalan. Museum ini ada di sebelah kanan Anda.


Daya Tarik Wat Pho dan Wat Arun – Paket Wisata Religi di Thailand

Wat Pho ini merupakan wat yang terbesar dan tertua di Bangkok. Wat ini juga merupakan tempat bernaungnya ribuan patung buddha dan sebuah patung raksasa berlapis emas, The Reclining Buddha (patung Buddha berbaring) yang panjangnya 43 meter dengan tinggi yang mencapai 15 meter, mata dan kakinya terbuat dari kerang mutiara, bertuliskan 108 ciri agung Buddha.


Dahulu, tempat ini merupakan pusat pendidikan pengobatan tradisional ala Thailand, dan sampai saat ini tempat pendidikan pijat tradisionalnya masih ada.

Sebenarnya wat ini dibuat sebagai restorasi sebuah wat sebelumnya yang sudah lebih dulu ada di situs yang sama, yaitu Wat Phodharam. Wat ini mulai dikerjakan pada tahun 1788, lalu wat ini mengalami pemugaran dan perluasan pada masa pemerintahan Raja Rama III , dan dikembalikan lagi pada tahun 1982.


Nama resmi wat ini adalah Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram, namun di kalangan wisatawan wat ini lebih dikenal sebagai Temple of The Reclining Buddha. Kompleks Wat Pho ini terdiri dari dua bagian, utara dan selatan. Area di sebelah utara adalah tempat dimana anda bisa menemukan The Reclining Buddha dan tempat pendidikan pijat tradisional Thai. Sedangkan area sebelah selatan adalah tempat dimana anda bisa menemukan Tukgawee, sebuah biara tempat para biksu tinggal dan belajar disana.


Di luar kuil anda bisa menemukan hamparan 91 buah chedi (bangunan mirip stupa), 4 vihara, dan satu tempat yang menjadi pusat tempat suci. Di sekeliling kompleks ini terdapat 16 gerbang yang dijaga oleh sebuah batu berukir dari China yang berukuran sangat besar. Hm, semua objek yang ada disini benar-benar membuat kamera anda akan terus kelaparan :D. Belum lagi jika anda masuk ke kuil utama tempat patung Reclining Buddha berada. Fiuh, anda akan dibuat pusing untuk memilih objek yang pantas untuk anda simpan sebagai kenang-kenangan.

Di sepanjang koridor anda bisa menemukan 108 buah mangkuk perunggu yang melambangkan karakter Buddha. Beberapa wisatawan terlihat menjatuhkan beberapa buah koin ke dalamnya. Ada yang percaya bahwa hal ini akan mendatangkan keberuntungan, dan beberapa diantaranya melakukan hal tersebut hanya untuk memberikan sumbangan kepada para biarawan dalam merawat wat-nya ini.


The Reclining Buddha adalah kunci dari perjalanan anda di Wat Pho, sebab patung Buddha yang sedang berbaring ini adalah pusat perhatian sekaligus menjadi daya tarik utama di wat ini. Tidak lengkap rasanya jika ke Wat Pho tanpa melihat patung The Reclining Buddha secara langsung. Juga jangan lupa untuk melihat-lihat paviliun tempat pendidikan medikal ala Thailand berada.

Wat Pho ini tepatnya berlokasi di Chetuphon dan Tha Wang Road, yang datang dari Grand palace langsung bisa jalan kaki menuju kompleks Wat Pho. Namun untuk mereka yang tdak sempat menyambung perjalanan dari Grand Palace ke Wat Pho bisa menggunakan feri Tha Tien N8, lalu berjalan di Tha Wang Road. Harga tiket masuk sebesar 50 baht, cukup murah bukan.

Nah, selain Wat Pho, ada lagi nih yang menjadi salah satu landmark di Bangkok. Dia adalah………Wat Arun.


The Temple of Down, begitulah para turis menyebutnya. Wat ini terkenal dengan keindahannya ketika diterpa cahaya fajar dan senja hari, apalagi jika dilihat dari sudut sungai Chao Phraya. Hm, benar-benar romantis… ;). Nama Arun itu sendiri diambil dari nama salah satu Dewa di India, yakni Dewa Arun atau Dewa Matahari.

Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara, atau yang biasa kita dengar sebagai Wat Arun, adalah kuil yang sudah ada selama bertahun-tahun ketika ibukota Thailand masih berada di Ayutthaya. Pada saat itu wat ini dikenal sebagai Wat Makok karena letaknya yang berada di Tumbol Bangmangkok.


Kemudian pada saat ibukota dipindahkan ke Thon Buri, Raja Rama I merubah nama tempat ini menjadi “Wat Chaeng”. Hingga di masa pemerintahan Raja Rama II, kuil ini dipugar dan ditambah hingga mencapai 70 meter dan memberinya nama baru, yakni “Wat Arunratchatharam”. Kemudian, di masa pemerintahan Raja Rama IV, kuil ini kembali mengalami restorasi dan kembali berubah nama menjadi “Wat Arunratchawararam” dan belum berubah hingga saat ini tetap menjadi Wat Arun yang kita kenal sekarang ini.

Daya tarik utama Wat Arun ini adalah Phra Prang yang ada di tengah-tengah kompleks Wat Arun. Dengan arsitektur menara bergaya Khmer (arsitektur khas Kamboja), ditambah dengan porselen warna-warni yang selalu berkilauan jika diterpa cahaya sunset dan menampilkan siluet yang indah saat matahari sedang terbit ataupun tengah tenggelam.


Tinggi Phra Prang ini mencapai 250 kaki dengan keliling menara 234 meter, dimana di setiap sudutnya terdapat empat Prang yang lebih kecil mengelilingi Prang ditengah yang tinggi menjulang. Keempatnya dihiasi oleh kerang dan potongan porselen yang menawan.
Di Prang ini juga disediakan tangga menuju ke balkon yang ada di atas menara, dari atas anda bisa menyaksikan pemandangan kota Bangkok 360 derajat. Hanya saja anak tangga yang harus anda lalui cukup curam dan sempit. Tapi hal ini membuat siapa saja tertantang demi mengetahui seperti apa view di atas sana.


Di samping Phra Prang itu terdapat aula dengan patung Buddha Niramitr, di pintu masuknya terdapat atap dengan sebuah menara di tengahnya di dekorasi dengan keramik berwarna dan diatur mirip bangunan khas di Cina. Dua Patung Yakhsa di pintu masuk Ubosot adalah Sahassa Deja (putih) dan Thotsakan (hijau) melambangkan iblis Rahwana dalam cerita Ramayana. Patung ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Rama V.Prang di tengah ini melambangkan Gunung Meru dalam kosmologi India, dan Prang kecil yang ada di setiap sudutnya melambangkan Dewa Angin, Phra Pai. Dan menurut berbagai sumber, puncak menara yang yang berbentuk 7 cabang trisula itu melambangkan Trisula Siwa. Di sekeliling dasar menara menggambarkan hewan-hewan dan tokoh tentara Cina jaman dulu. Di teras ke-dua ada empat patung Dewa Indra yang sedang mengendarai Erawan, gajah berkepala tiga.


Lokasi Wat Arun sendiri tidak begitu sulit untuk ditemukan karena lokasinya tepat berada di tepi sebelah barat Sungai Chao Phraya, berseberangan dengan Tha Thien Pier. Untuk mencapainya anda bisa mengambil jalur dari Jalan Arun Amarin di sisi Thon Buri atau dengan naik feri Tha Thien N8 yang berada di belakang kompleks Grand Palace.

Wat ini buka mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore, setiap hari. Harga tiket masuknya sekitar 50 Baht. Anda yang berminat berkunjung sebaiknya datang pagi hari, sehingga anda puas menikmati wat-wat yang ada dan saat anda pulang di sore hari melalui sungai Chao Phraya, maka anda akan menemukan pesona Wat Arun yang sebenarnya. Oh ya, jangan lupa persiapkan lotion, energi yang cukup, dan yang tidak kalah adalah…kamera :D.

Hm, perjalanan menikmati kedua wat ini akan serasa begitu romantis dan bermakna jika anda pergi bersama keluarga, teman, atau dengan pasangan anda… ;)

So, have a nice trip!

 

Sabtu, 05 Januari 2013

BERKENALAN DENGAN ALUN-ALUN DI PINGGIR SUNGAI SEINE

commons.wikimedia.org


Berada dimanapun, yang namanya alun-alun pasti menarik. Selain menjadi salah satu tempat berkumpul bersama keluarga ataupun sahabat, alun-alun banyak digunakan pula untuk berolahraga seperti santai seperti jogging ataupun yoga. Menariknya lagi, alun-alun juga biasa dijadikan tempat berkumpulnya para penjaja kuliner. Jadi kalau ingin berkenalan dengan sebuah kota, datang ke alun-alun bisa menjadi salah satu alternatif menarik yang ramah di kantong bukan?

Jika Anda mengagendakan untuk berlibur di Paris, jangan lupa untuk berkunjung di Place de la Concorde, salah satu alun-alun kota yang terletak di pinggir Sungai River, diantara Tuileries Garden dan Champs Elysees Avenue. Selain memiliki panorama indah khas Paris, salah satu ikon khas Paris ini memiliki monumen tertua di Paris yang disebut dengan Luxor Obelisk. Sejarah tempat ini berawal di tahun 1748, tepatnya ketika dibuatnya patung berkuda yang dirancang oleh pematung Edme Bouhardon. Patung berkuda ini dirancang khusus untuk Raja Louis XV sebagai peringatan kemenangan Perancis dalam perang Suksesi Austria.

Place de la Concorde dirancang oleh seorang arsitek bernama JacquesAnge Gabriel, seorang chief architect Raja Perancis di masanya. Pembangunan alun-alun ini dimulai sejak tahun 1754. Kala itu, tempat ini dikenal dengan nama Place Louis XV. Tidak seperti kebanyakan alun-alun yang berbentuk persegi, Place de la Concorde dibangun berbentuk oktagon atau persegi delapan. Seperti alun-alun pada umumnya, Place de la Concorde juga memiliki sebuah focal point berupa patung kuda yang diapit oleh dua air mancur.

 www.mabellephoto.com

Sayangnya patung berkuda Raja Louis XV hancur akibat terjadi revolusi yang terjadi di Perancis dan diganti dengan Liberte atau Freedom, yang kemudian dikenal dengan Place de la Revolution. Selama terjadi pergolakan di negeri cantik ini, Place de la Concorde menjelma menjadi tempat yang sangat terkenal dan menengangkan. Kenapa demikian? Ini tidak lain karena dibangunnya guilliotine atau pemenggal kepala di tahun 1792. Selama dua tahun saja, ribuan orang telah ditahan di La Conciergerie, bekas istana yang dulu dialih fungsikan menjadi penjara. Kehidupan beberapa tokoh terkenal Perancis pun ada yang harus berakhir di Place de la Concorde. Raja Louis XVI, Marie Antoinette dan Maximilien Robespierre contohnya. Mereka dan para tahanan lain yang mendapatkan hukuman mati akhirnya dikuburkan di sisi lain kota cantik ini.

Jika sedang berlibur di Paris, jangan lewatkan beberapa objek wisata yang sangat tersohor seperti Basilica Secre Coeur, Bataclan dan Kathedral Notre Dame. Anda juga wajib mencicipi aneka kuliner khas negeri romantis ini, sepertiTarte tartin, Gratin Dauphinois, es krim Berthillon dan Salad Nicosie. Jika Anda sedang berlibur area Tour Eiffel-Invalides, Paris, ada beberapa pilihan hotel murah yang dapat dijadikan sebagai tempat istirahat, seperti Le Tourville Hotel, Hotel Le Bellechasse ataupun Hotel du Palais Bourbon. Selamat berlibur!


(sumber)