Wisata Arab: Masjid Terapung Menakjubkan di Kota Jeddah.

Masjid satu ini boleh jadi merupakan Masjid paling populer di kota Jeddah bagi para jemaah Haji atau pun jemaah Umroh, termasuk jemaah dari Indonesia.

Angel Falls” di Venezuela Jadi Daya Tarik Turis

Aliran air di Angel Falls ini langsung jatuh tanpa terhalang bebatuan atau pun merambat ke dinding bebatuan, airnya langsung meluncur sejauh 807 meter dan dari aliran air Sungai Gauja. Lokasi air terjun ini agak terpencil dikelilingi hutan hijau yang lebat dan padang rumput.

Wisata Syariah Pengaruhi Daya Jual Pariwisata NTB

Wacana ‘branding’ baru sebagai wisata syariah, menurut sejumlah pihak, dapat mempengaruhi daya jual pariwisata NTB di mata dunia.

Inilah Tempat Wisata dan Rohani Pilihan di Timor Leste

Republik Demokratik Timor Leste (juga disebut Timor Lorosa’e), yang sebelum merdeka bernama Timor Timur merupakan negara kecil di sebelah utara Australia dan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan enklave Oecussi-Ambeno di Timor Barat.

Danau “Mutiara Siberia” Jadi Andalan Rusia, Ini Obyek Wisata Menarik Lainnya

Beberapa tempat wisata lain di Rusia selain danau mutiara...

Tampilkan postingan dengan label Wisata Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Pantai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Menikmati Pelesir ala Menir di Bangka Belitung

Menikmati Pelesir ala Menir di Bangka Belitung  : aktual.co
Pantai di Belitung



Sejarah pertimahan di Bangka Belitung memang cukup panjang, untuk eksplorasi bijih timah dengan pemboran saja telah dilakukan sekurangnya sejak awal abad ke-18.


Jakarta, Aktual.co — Sudah biasa jika orang menyebut Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai daerah kaya timah. Bahkan hingga sekarang, salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Timah (Persero) Tbk masih terus melakukan eksplorasi di wilayah tersebut.

Sejarah pertimahan di Bangka Belitung memang cukup panjang, untuk eksplorasi bijih timah dengan pemboran saja telah dilakukan sekurangnya sejak awal abad ke-18.

Sementara, berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Belitung, sejarah pertimahan di Belitung lama dimulai setelah seorang kapten berkebangsaan Belgia bernama JP. De La Motte, yang menjabat sebagai Asisten Residen dan juga pimpinan tentara Kerajaan Belanda, berhasil menemukan timah di Belitung.

Selanjutnya, pada 1850 penambangan diambil alih oleh "Billiton Maatschapij", sebuah perusahaan penambangan timah milik Pemerintah Belanda di Belitung.

Kemudian, tahun 1852 Belitung dipisahkan dari Bangka dalam urusan administrasi dan kewenangan penambangan timah. Pemisahan tersebut atas desakan JF. Louden, Sang Kepala Pemerintahan Pusat di Batavia.

Pemisahan dimaksudkan untuk mengantisipasi kesenjangan Residen Bangka dari pesatnya pertambangan timah di Belitung.

Sejak itulah, menurut tetua sekaligus tokoh masyarakat Belitung, Rosihan Sahip, Sang Kepala Administrator mulai tinggal di rumah kayu di pinggir pantai. Lalu pada tahun 1862, Rumah Eks Tuan Kuase mulai dibangun dan diperkirakan menjadi bangunan pertama yang dibangun di Belitung pada saat itu.

"Rumah Eks Tuan Kuase kira-kira dibangun sekitar tahun 1862, dan konon merupakan bangunan pertama di kawasan Tanjung Pendam itu," kata Rosihan yang juga ketua pecinta bangunan bersejarah; "Billiton Heritage Society".

Rosihan yang mengaku paham "sedikit-sedikit" Bahasa Belanda tersebut memperkirakanpenghuni pertama di "Hoofdadministrateur" atau Rumah Tuan Kuase tersebut adalah JF. Louden sendiri.

"Lalu disusul Heydeman, HG Dielwart, kemudian RJ Van Lier pada 1917, dan lain-lain," kata Rosihan merujuk pada sebuah buku sejarah berbahasa Belanda yang sering dibacanya.

Tujuan wisata Eks Rumah Tuan Kuase dulunya adalah rumah Hoofd Administratie atau dalam Bahasa Inggris disebut Assistant Controller atau rumah Pembantu Pengawas.

Seperti telah dijelaskan Rosihan, bangunan rumah yang hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari objek wisata Pantai Tanjung Pendam tersebut dulunya merupakan kediaman Sang Pembantu Pengawas pertambangan di Belitung.

"Orang sini menyebutnya sebagai Eks Rumah Tuan Kuase karena dulu memang itu tempat tinggal Tuan Kuase atau Tuan Pemimpin, pemimpin pertambangan," kata Rosihan.

Bangunan yang berdiri di atas lahan kurang lebih satu hektar tersebut memiliki ciri bangunan kolonial yang kental.

Pondasi tinggi dengan kusen-kusen jendela serta pintu megah menjulang dapat dilihat di sana.

Selain itu, halaman luas yang asri menambah keindahan bangunan tersebut. Pada beberapa sudut di halaman bangunan terdapat batu granit raksasa.

Tidak hanya itu, Pohon-pohon Beringin raksasa berumur ratusan tahun juga menambah kesan "wah" bangunan tua itu.

Seiring perkembangan jaman, penghuni dan pengelola rumah tersebut datang dan pergi silih berganti. Saat PT Timah masih beroperasi di Belitung, bangunan tersebut dijadikan rumah dinas untuk Kepala UPT Belitung.

Sekarang, bangunan tersebut dikelola oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung sebagai mess dan diberi nama "Wisma Bougenville".

Wisma Bougenville Jika ingin mengunjungi Belitung dengan cara yang unik, dapat mencoba menginap di Wisma Bougenville yang ada di Jalan Melati, sekitar 200 meter dari Kawasan Pantai Tanjung Pendam.

Di sana, pengunjung dapat menikmati "plesir ala menir" di mana mereka dapat merasakan atmosfer kolonial di masa lampau.

Di rumah bekas Tuan Kuase itu, pengunjung dapat menikmati ruang-ruang besar di dalam rumah yang sebagian besar bangunannya masih asli.

Membuka salah satu jendela kamar di wisma tersebut akan disuguhi hamparan rumput hijau dan desiran angin pantai yang melankolis.

Berdiri menghadap ambang jendela berkusen jati raksasa, rasanya seperti ditarik beberapa abad ke belakang di mana pemerintah kolonial masih berkuasa di Belitung.

Memandang Belitung dari dalam rumah itu, kita merasa perkasa tapi juga rapuh karena pemandangan di luar terlalu indah untuk dilewatkan, mungkin itu yang dirasakan para menir Belanda yang dulu menghuni rumah itu.

Sang tetua, Rosihan Sahip menyebutkan, dulu sebelum rumah diserahterimakan pada pemerintah, daerah sekitar wisma merupakan kawasan "terlarang" bagi masyarakat Belitung.

"Dulu daerah sekitar sana adalah kawasan elit, masyarakat tidak boleh mendekat karena sangat dijaga ketat keamanannya, bahkan setelah dikelola olehpihak PT Timah masih seperti itu, kawasan wisma masih dijaga satpam dan jalan menuju ke sana pun ditutup," kata Rosihan.

Namun sekarang, masyarakat tidak hanya boleh melintas di depan wisma tapi mereka bahkan dapat menginap di hunian bersejarah tersebut secara cuma-cuma karena merupakan bangunan yang dikelola pemerintah daerah.

Salah seorang staf penjaga wisma, Isabela, menjelaskan Wisma Bougenville telah dibeli dari PT Timah (Persero) Tbk oleh Pemerintah Provinsi pada 2011 lalu.

Bangunan dengan luas lahan 8.602 meter persegi dan luas bangunan lebih kurang 1.065 meter persegi itu telah diambil alih oleh Pemprov Babel dengan kompensasi hampir Rp2 miliar.

Di Wisma Bougenville terdapat 15 kamar yang disewakan kecuali dua ruang tidur utama yang biasa digunakan menginap oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Bangka Belitung jika bertugas di Belitung.

Masyarakat lokal mengatakan, di bawah Wisma Bougenville terdapat sebuah misteri berupa terowongan bawah tanah yang langsung terhubung dengan pantai.

Jadi, jika tertarik untuk mengalami liburan unik di Belitung, tidak ada salahnya mencoba bermalam di "Hoofdadministrateur" atau Rumah Tuan Kuase

Selasa, 01 Juli 2014

Pantai Matras dan Parai Tenggiri





Pantai Parai Tenggiri terletak di daerah Matras Sungailiat, sekitar 40 km dari Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Parai Tenggiri merupakan pantai paling populer dan eksklusif di Bangka Belitung. Pantainya cukup landai dan memiliki ombak yang lembut. Di pantai ini fasilitas yang tersedia antara lain hotel, outbound serta permainan olah raga air.

Pantainya sangat memungkinkan Anda berenang dan bermain air di sepanjang bibir pantai dengan pasir berwarna putih dan air laut yang hijau. Pantai Parai adalah tempat yang ideal berwista dalam suasana santai yang menyuguhkan panorama pantai desa nelayan.

Di Pantai Parai Tenggiri Anda dapat melihat batu-batu granit yang besar beragam bentuk unik yang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Bebatuan karang inilah yang membuat pemandangan di pantai ini menjadi lebih istimewa dan kerap kali mengundang decak kagum para pengunjung. Dari atas batu-batu karang, pengunjung dapat duduk santai untuk menikmati keindahan Laut Cina Selatan yang teduh dan berombak kecil. Pada malam hari, pengunjung dapat dengan leluasa menikmati suasana malam di pinggir pantai yang diwarnai cahaya dari kapal-kapal yang tengah berlayar sambil tidak lupa menikmati ubi goreng keju, pisang goreng keju, kolak labu merah, ataupun minuman hangat yang bisa dibeli di restoran terdekat.
















Selain menikmati keindahan alam dan suasananya, pengunjung juga dapat melakukan rekreasi bahari yang menarik. Bagi Anda yang hobi memancing di pantai maka tersedia penyewaan perahu pancing lengkap dengan semua peralatannya. Mau yang sedikit lebih menantang? Anda dapat saja melakukan permainan banana boating ataupun parasailing atau dapat pula melakukan diving menikmati kekayaan terumbu karang di kawasan pantai. Bagi Anda yang ingin mencoba parasailing  atau diving namun belum memiliki pengalaman tidak perlu khawatir. Karena, pengelola pantai menyediakan instruktur berpengalaman yang dapat memberikan petunjuk cara penggunaan dan pelatihan terlebih dulu.

Saat ini, kawasan Pantai Parai Tenggiri ditetapkan sebagai kawasan wisata hijau dengan sebutan Parai Green Resort  dengan kepedulian yang besar terhadap usaha penyelamatan lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan bahan-bahan yang dapat mencemari pantai, seperti plastik, serta menanam banyak pohon di lokasi wisata ini.

Sementara Pantai Matras amat indah dan landai. Pantai ini terletak di desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat, disebelah Timur Laut Pulau Bangka dan berjarak sekitar 40 km dari Pangkalpinang atau 7 km dari Kota Sungailiat.

Keistimewaan pantai ini adalah pada pasir putihnya yang halus, nyiur yang melambai-lambai dan aliran sungai alami. Keistimewaan lain, lokasinya yang nyaman dan tenang akan memberikan keleluasaan bagi Anda untuk menyantap makanan sambil bersandar di bebatuan alam dan menikmati keindahan suasana pantai. Di kawasan Pantai Matras juga telah dibangun banyak tempat peristirahatan berupa bungalow sederhana yang nyaman.

Hamparan pasir pantai ini menyatu dengan bebatuan indah di sekitarnya seperti mutiara yang terbentang di depan mata. Pantai Matras terdiri dari pasir putih yang halus dengan panjang sekitar 3 km, dengan lebar 20 sampai 30 meter, pantai yang dilatar-belakangi oleh pepohonan kelapa ini menampilkan pula laut yang bening dan pemandangan indah serta aliran sungai yang alami sehingga acapkali disebut sebagai Pantai Surga.

(sumber)

Kamis, 01 Mei 2014

Belitung: Pulaunya Laskar Pelangi

Batu Berlayar - Indonesia Travel

Di lepas pantai timur Sumatera, diapit oleh Selat Gaspar dan Selat Karimata, berdiri sebuah pulau menawan dihiasi pantai yang indah dan pemandangan memesona, Pulau Belitung namanya. Ada pemandangan unik dihiasi pantai pasir putih bak mutiara, air jernih yang segar, dan kokohnya formasi batu granit di tepi air dangkal. Itu semua hanya sebagian saja dari pemandangan terbaik pulau Laskar Pelangi.

Bersama dengan Pulau Bangka di sebelahnya yang jauh lebih besar dan pulau-pulau kecil lainnya, dahulu semua pulau ini berada di provinsi yang sama yaitu Provinsi Sumatera Selatan. Akan tetapi, kemudian tahun 2000, kepulauan ini secara resmi dibentuk menjadi provinsi baru ke-31 di Indonesia yang disebut Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pulau Belitung dibagi menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Belitung dengan Kota Tanjung Pandan sebagai ibu kotanya dan Kabupaten Belitung Timur dengan ibu kota Manggar.

Pada September 2005, seorang penulis dari Belitung yaitu Andrea Hirata, mempublikasikan novel berjudul “Laskar Pelangi”. Ia mengambil latar belakang cerita Pulau Belitung dalam novel tersebut sehingga kemudian pulau ini mendapat pengakuan luas dan bahkan sudah melanglang buana ke berbagai negara karena diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Melayu, Cina, Vietnam dan Korea.

Tahun 2008, novel “Laskar Pelangi” dialihkan ke layar lebar dengan mengambil latar pemandangan memesona Pulau Bangka Belitung sehingga menguakkan keindahannya di mata dunia. Nama novel “Laskar Pelangi” kemudian secara resmi dijadikan sebagai nama pelabuhan di pulau ini.

Meskipun tidak sepopuler Bali atau Lombok, Pulau Belitung diberkati dengan beberapa pantai yang indah. Pasirnya lembut berwarna putih, bahkan pasir di pulau ini lebih putih dari yang ada di pantai wisata di Bali.

Pemandangan yang paling berbeda di Pantai Belitung adalah formasi batuan granit besar yang menyebar di sepanjang perairan dangkal. Batu granit raksasa tersebut diam membeku di tengah air berdampingan bersama indahnya pemandangan sekitar yang memesona. Beberapa formasi batuan raksasa ini bahkan membentuk terowongan pendek sehingga di bawahnya menjadi taman bermain menarik di perairan yang tenang. Temukan salah satu pemandangan pantai dengan pemandangan batu granit ini di Pantai Tanjung Tinggi yang sekaligus menjadi latar film “Laskar Pelangi“.

Ada juga pantai lainnya yang menawarkan pemandangan formasi batuan granit yang megah dan suasana damai seperti Pantai Tanjung Kelayang Beach, Pantai Burung Mandi, Pantai Tanjung Binga, Pantai Punai, dan Pantai Membalong.

Belitung juga dikelilingi lebih dari 100 pulau kecil yang hampir semuanya dihiasi pasir putih dan batu granit tetapi hanya beberapa pulau yang berpenghuni. Salah satu pulaunya yaitu Pulau Lengkuas adalah tempat dimana Anda bisa menemukan rumah kuno antik dan mercusuar abad ke-19 dan yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Pulau Burung, Pulau Babai, Pulau Pengadaran, Pulau Lutung, Pulau Kera, dan Pulau Jenang adalah di antara beberapa pulau-pulau kecil yang menawarkan pemandangan sangat indah.

Selain pantai yang menakjubkan, Belitung juga membanggakan warisan masa lalunya. Di Tanjung Pandan, Museum Belitung memiliki koleksi besar mengenai sejarah lengkap pulau tersebut. Di bangun tahun 1963, museum ini diprakarsai seorang ahli geologi Belgia, Dr. Oesberger, yang saat itu bekerja di industri pertambangan Belitung.

Pada awalnya, Museum Belitung hanyalah sebuah rumah yang menyimpan koleksi eksplorasi pertambangan. Kemudian dibuatlah museum dan koleksinya ditambah termasuk peralatan rumah tangga tradisional, tembikar, senjata tradisional, dan banyak lainnya.








Ada juga kuil Budha abad ke-18 yang indah terletak di Desa Burung Mandi, Kecamatan Manggar. Vihara Dewi Kwan Im ini dibangun tahun 1747 dan masih berfungsi sebagai tempat suci bagi umat Budha. Menawarkan arsitektur Cina yang berbeda, kuil tersebut berdiri di puncak bukit yang indah dan menawarkan pemandangan yang mengagumkan.

Entah itu menelusuri jejak Laskar Pelangi atau sekedar menikmati pemandangan megahnya formasi batu granit di pantai, Pulau Belitung pastinya menawarkan salah satu pengalaman yang menarik

(sumber)

Rabu, 01 Januari 2014

Pantai Tanjung Kelayang: Suguhan Bingkai Alam Belitung nan Memukau



Imajinasi Anda tentang Bumi Laskar Pelangi pasti selalu mengenai pantai dengan bebatuan granit besar yang berdiri dipermukaan lautnya. Airnya jernih bergradasi biru toscha memperlihatkan terumbukarangnya yang masih sehat. Beberapa destinasi seperti Pulau Lengkuas, Batu Berlayar, Batu Garuda, dan Pulau Kepayang telah menyuguhkan itu dan dapat dirangkum di dalam satu trip Anda.

Akan tetapi sebelum menjelajah kepulau-pulau indah di Belitung menggunakan klotok, Anda harus singgah terlebih dahulu di Pantai Tanjung Kelayang, pantai dimana kapal-kapal ditambatkan menunggu datangnya wisatawan untuk menyeberang kepulau lain. Saat pertama kali menapakkan kaki di sini, bersiaplah dibuat terpukau dengan lansekap Pantai Tanjung Kelayang.


Pantainya membentuk teluk indah yang dipagari pepohonan kelapa dan cemara. Pasirnya luas dan ombaknya pun tidak ganas sehingga Anda harus menyempatkan diri bermain-main di pantai ini sebelum menyebrang kepulau-pulau lain.

Perpres Nomor 79 Tahun 2011 menuliskan bahwa Pelabuhan Tanjung Pandan Belitung ditetapkan sebagai salah satu dari 18 Pelabuhan diseluruh Indonesia yang diberikan kemudahan kepelabuhanan untuk proses keluar dan masuknya kapal wisata. Setiap tahun tepatnya Oktober, Pantai Tanjung Kelayang dijadikan titik labuh kapal yacht yang sedang berlayar dalam kegiatan Sail Indonesia. Beragam event lain juga diselenggarakan di sini seperti lomba menyelam, festival maritim, lomba layang-layang, turnamen voli pantai se-ASEAN, dan masih banyak lagi lainnya.

Gagahnya Batu Garuda terlihat jelas dari pesisir Tanjung Kelayang. Dinamakan demikian karena bentuk bantu tersebut menyerupai kepala seekor burung. Konon pemandangan ini pun memengaruhi nama Tanjung Kelayang, dimana "kelayang" sendiri merupakan nama dari salah satu jenis burung.

Hamparan pasirnya begitu luas membentang 4 km hingga ke Tanjung Tinggi. Pemandangan sisi barat sangat menarik memperlihatkan 3 pulau kecil yang spektakuler saat Matahari terbenam. Tempat terbaik untuk menikmatinya adalah dari puncak bebatuan granit yang terletak di ujung semenanjung. Ada juga yang memilih menyaksikannya dari vila-vila yang terletak sekira 500 meter dari semenanjung.

Pletek adalah oleh-oleh gurih khas Belitung. Camilan ini terbuat dari daging ikan tenggiri yang dicampur dengan aneka bumbu seperti garam dan merica. Penggemar kain juga bisa menemukan batik khas Belitung. Motifnya berupa daun-daun simpor, hingga motif-motif laut seperti ikan dan kerang.

(sumber)

Sabtu, 02 November 2013

Bijindo, Opsi Piknik Akhir Pekan di Korea Selatan

bijindo_island_korea_3

Banyak yang mengira kita tidak akan bisa menemukan tempat yang sunyi dan indah di Korea Selatan selain Pulau Jeju. Opini itu salah besar. Datanglah ke Bijindo dan rasakan waktu seakan berhenti.

Bijindo atau Bijin Island adalah lepas pantai yang ada di Tongyeong. Untuk mencapai Bijindo Anda harus melewati jalan utama dan satu-satunya yang menghubungkan dua desa yakni Waehang dan Naehang.

Kendati namanya tidak setenar pulau-pulau lain di Korea namun Bijindo akan membuat Anda serasa dibuai alam. Setelah mengendarai feri, Anda akan sampai di pulau yang tak banyak dikunjungi orang. Kita dapat menghabiskan waktu dengan tenang di tempat indah ini. Pantai berpasir putih kecoklatan adalah daya tarik utamanya. Anda bisa berenang dan berjemur sepanjang waktu. Aktivitas lain yang bisa dilakukan adalah hiking ke beberapa sudut pulau dan temukan beberapa spot yang memungkinkan Anda melihat keseluruhan pulau yang memesona ini. Jangan lupa membawa kamera untuk mengabadikan setiap momen indah tersebut.

dsc_0264
Hal lain yang tak kalah menarik adalah melihat matahari terbit (sunrise) yang kemudian menerangi seluruh pulau ini dengan sinar hangatnya. Puas melihat setiap detail BIjindo Anda bisa mengisi perut di Bijin Sikdang, satu-satunya restoran yang ada di pulau ini. Menu utamanya adalah haemul dwenjang jigae. Bagi penyuka seafood menu ini harus Anda cicipi dan rasakan kelezatannya.

Bagaimana dengan penginapan ? tak perlu khawatir karena disini tersedia penginapan yang berada tepat di sisi pantai yakni Bada Iyagi Pensions. Setiap kamar yang tersedia menghadap lautan hingga Anda bisa melihat panorama pantai dari dalam penginapan. Mengasikkan bukan ?.

Berwisata ke Bijindo walaupun hanya sehari akan terasa menyenangkan. Untuk mencapai lokasi ini Anda harus menumpang bus menuju Tonyeong dari Busan. Setelah itu lanjutkan perjalanan Anda dengan naik taksi menuju terminal feri. Dalam 1 hari, kapal tersebut memiliki jadwal keberangkatan sebanyak 3 kali yakni 07.00, 11.00 dan 14.00. Saat musim panas, antrian pelancong di terminal keberangkatan agak lebih sibuk dibanding hari biasanya, jadi Anda harus mempersiapkan waktu ekstra untuk mendapatkan giliran berangkat. Nah, tunggu apa lagi ? masukkan Bijindo ke dalam daftar kunjungan Anda saat di Busan.

2049466563_rf4khsXE_1028353947_47abea42_bijindo
Beberapa hotel yang bisa Anda singgahi selama di Busan adalah Commodore Hotel, Haeundae Grand Hotel dan Lotte Hotel Busan.

Sedangkan tempat wisata lainnya, khususnya yang ada di Busan adalah Bujeon Market, Busan Tower dan U.N Memorial Park.


(sumber)